Dalam performans ini, Otty bermain dengan delay live streaming kanal YouTube sebagai musik latar makan malamnya.

“Sebuah karya performance art terlahir untuk ditampilkan dengan mentalitas satu arah. Dia hanya akan hadir di dunia maya untuk menjelma menjadi sebuah produk simulasi. Dia harus menanggalkan sifat-sifat lamanya yang sakral, karena bahkan dia bisa ditonton dalam layar telepon pintar.

Jadi, bagaimana sebuah karya performance art bisa menjadi demikian relevan untuk diminati kalangan muda, jika bisa dibilang para milenialis tidak percaya lagi kepada distribusi informasi yang bersifat satu arah; mereka lebih percaya kepada user generated content (UGC) atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan, dan berdialog secara peer-to-peer?

Pembacaan terhadap hal ini menuntut pemahaman bahwa audiens performance art merupakan bagian dunia yang termediasi pula. Semua orang terhubung dan semua orang di era internet adalah audiens yang mengonsumsi konten sekaligus memproduksi konten.”

In this performance, Otty plays with the delaying of live streaming on YouTube channel as the music background of the supper.

“A work of performance art was born to be showcased in a one-way direction mentality. It will only be present in the virtual world to transform into a simulation product. It must abandon its old sacred qualities, even it can be watched on a smartphone screen.

So, how can a performance art work become so relevant and attracting interest for the young generation, if it is argued that the millennials do not believe in the distribution of information in one direction anymore; they believe more in user-generated content (UGC) or content and information made by individuals, and peer-to-peer dialogue?

The reading of these matters requires an understanding that the audience of performance art is also a mediated part of the world. Everyone is connected and everyone in the internet era is an audience that consumes content while producing content.”

Recommended Posts

Start typing and press Enter to search