In Review

Suasana kegiatan diskusi di Forum Lenteng setelah menyaksikan karya-karya dalam kuratorial Transmitted Delusion (2016). (Foto: Forum Lenteng).

SALAH SATU DAYA tarik seni performans adalah kemampuannya untuk menciptakan “ketegangan” di antara si penampil (seniman) dan audiens. Ketegangan ini berhubungan dengan reaksi tubuh dan situasi ketubuhan, baik tubuh si penampil sendiri maupun tubuh-tubuh audiens, termasuk pula dampak psikis dan fisikal yang akan diterima tubuh-tubuh tersebut. Konsep “ketegangan” di dalam seni performans ini berkaitan pula dengan konsep “risiko”.

Sebagai karakteristik seni performans, “risiko” pada satu sisi dapat ditakar (measured) dengan acuan tertentu sehingga output dari aksi seni menjadi bersifat pasti. Aksi tersebut memberikan gambaran atau informasi antisipatif kepada tubuh sehingga “mesin kognitif” dari tubuh yang akan menjalani peristiwa performatif dapat menetapkan batasan-batasan rasional untuk memaknai (termasuk juga, memaklumi) keadaan yang akan dihadapi atau dialaminya. Pada sisi yang lain, “risiko” juga bisa sekadar ditaksir (estimated), kadang kala mengandalkan intuisi, sehingga output dari aksi seni berada di luar zona prediksi kognitif. Aksi semacam ini menekankan spekulasi atas tubuh—berdasarkan informasi-informasi “sosio-historis”—dan yang menjadi sasarannya adalah aspek emosional diri. Misi spekulasi semacam ini memainkan sebagian atau keseluruhan dari tiga hal: (1) kejutan, (2) ekspektasi tentang kejutan tersebut, dan (3) pembatalan dari “kejutan yang diekspektasikan”.

Bagaimanapun, kedua-duanya, “takaran risiko” dan “taksiran risiko” dalam seni performans, adalah upaya untuk menghasilkan suatu refleksivitas baik pada saat maupun pasca-peristiwa performatif, yaitu refleksi mengenai kondisi (psikis dan fisikal) tubuh, pengalaman tubuh, dan peristiwa yang sedang atau sudah terjadi. Seni performans bisa menekankan salah satunya, juga bisa mempersoalkan kedua-duanya. Dan apa yang kita maksud di sini sebagai “ketegangan” itu, ialah sesuatu yang berlangsung di dalam proses penakaran dan/atau penaksiran risiko.

Kedua konsep unik di atas, “ketegangan” dan “risiko”, mencirikan kesekarangan dan “kehadiran-kini” dari peristiwa artistik-performatif yang dihasilkan oleh sebuah karya seni performans. Oleh karena itu, berbeda dengan karya-karya “nonperistiwa” ataupun “nontindakan langsung” yang atribusi esensialnya adalah kontemplasi berdasarkan pertukaran nilai-nilai (antara seniman, karya, dan audiens), atribusi utama yang melekat pada seni performans adalah negosiasi. Salah satunya, “negosiasi kepercayaan”. Ini adalah hal yang sangat ditonjolkan, terutama, oleh karya-karya seni performans yang secara langsung melibatkan audiens ke dalam peristiwa, atau yang menyertakan tubuh audiens sebagai subject matter-nya.

Investasi kepercayaan audiens terhadap karya yang akan mereka saksikan, yang seketika tersepakati tanpa kata-kata tatkala audiens memutuskan untuk menonton karya, merupakan titik berangkat si penampil untuk mendefinisikan batas-batas peristiwa artistik, sekaligus juga untuk menguji batas-batas tersebut lewat beragam kemungkinan dari improvisasi tindakan (ataupun dengan sengaja membiarkan terjadinya hal-hal di luar daftar kemungkinan tindakan yang sudah ditetapkannya). Keuntungan dari investasi ini tentunya bermacam-macam. Dalam konteks seni performans, genre karya yang hadir/tampil dalam dua bentuk (yaitu: [1] aksi dan [2] peristiwa yang dihasilkan oleh aksi tersebut), yang di dalam kedua bentuk itu “tubuh” selalu dan akan selalu dibicarakan, gejala paling umum yang bisa kita sebut “keuntungan” dari negosiasi ini adalah “pencerahan sensorik”. Melalui pencerahan itulah nantinya makna-makna kontekstual sehubungan dengan tema karya dapat direnungkan oleh audiens.

***

Abi Rama saat akan memulai karya seni performans-nya yang berjudul The Trust Among Us di Forum Lenteng, 6 Maret 2016. (Foto: Forum Lenteng).

SEHUBUNGAN DENGAN GAGASAN di atas, Abi Rama menyajikan karya seni performans ketiganya yang berjudul The Trust Among Us (2016) di Forum Lenteng, Jakarta, dalam acara presentasi 69 Performance Club yang ketiga, bertajuk Transmitted Delusion, pada tanggal 6 Maret 2016. Dikurasi oleh Hafiz, tajuk ini sebenarnya mengajukan pertanyaan penting: bagaimana membicarakan sebuah “kenyataan” (dengan tanda petik) yang melampaui kenyataan (tanpa tanda petik) dengan mengkolase “rekaman-rekaman” dari kenyataan yang sudah kita kenali sehari-hari? “Rekaman-rekaman” di sini bisa berbentuk apa pun: ingatan, benda, tindakan (yang dihadirkan ulang), dan lain sebagainya. Tubuh, dalam konteks kuratorial tersebut, dilihat sebagai media transmisi untuk mencerabut makna “rekaman-rekaman” itu dari latar sosial, sejarah, dan budaya, bahkan juga latar moralnya, dan menjadikannya sesuatu yang benar-benar baru dan terlepas dari kesepakatan umum. Akan tetapi, plot twist kuratorialnya adalah, bagaimana semestinya kita melihat jikalau pencerabutan itu justru malah mengafirmasi ikatan tegas antara “kenyataan” dan kenyataan (yang di dalamnya habitus-sosial pelaku dapat ditinjau kembali)…?

Hari ini, kita tidak bisa menyaksikan kembali secara utuh bagaimana aksi Abi Rama di dalam The Trust Among Us. Kita hanya bisa meninjaunya melalui video dokumentasi yang diproduksi oleh tim 69 Performance Club, namun konten video itu pun tidak menampilkan peristiwanya secara lengkap. Di video itu, kita hanya melihat sejumlah selipan-selipan foto: audiens berdiri di dalam sebuah ruangan (yaitu ruang tamu kantor Forum Lenteng kala itu) dengan mata tertutup. Di ujung video, sebuah foto memperlihatkan seseorang (yaitu Abi Rama) duduk di sebuah kursi menghadap audiens, membelakangi kamera, dengan tubuh telanjang. Dari gesture tubuh telanjang itu, kita bisa menduga bahwa Abi sedang melakukan sesuatu di dekat mulutnya—dugaan saya ini pun berdasarkan apa yang diceritakan oleh Abi sendiri kepada saya tentang karya itu. Di dalam video dokumentasi, selipan-selipan foto itu diiringi oleh suatu bunyi. Sekali lagi, kalau kita duga, bunyi itu agaknya berasal dari sebuah teko berisi air mendidih di atas kompor.

Audiens diminta untuk menutup matanya menggunakan masker yang sudah disediakan selama menyimak karya berjudul The Trust Among Us (2016). (Foto: Forum Lenteng).

Sebenarnya, inti dari karya ini adalah misteri tentang aksi apa yang dilakukan oleh Abi selama penonton menyimak karya tersebut dengan mata tertutup. Dapat dipahami, intensinya adalah rangsangan terhadap indra penonton selain indra penglihatan. Intensi semacam ini saja sudah menghadirkan suatu polemik mengenai pemahaman umum kita soal estetika seni performans; intensi untuk menggeser aspek ketinampilan karya. Konsep staging dalam performans, bagi Abi, tidak melulu harus diperlihatkan, sedangkan kegiatan “mendengar tanpa melihat” bukan berarti pula mengingkari fakta bahwa ada peristiwa staging yang tetap menjadi poros performans tersebut. Maka, karya ini tidak bisa serta-merta kita klaim (reduksi) menjadi “karya seni bebunyian” belaka. Sebab, totalitas performatifnya tetap menjaga eksistensi elemen-elemen terpenting yang dengannya kita bisa mendefinisikan apa yang seni performans, apa yang bukan.

Jika diamati, Abi melakukan transmisi menuju “kenyataan” (bertanda petik) melalui dua perlakuan. Pertama, menggeser fungsi dan makna sosial yang disepakati dari sebuah benda. Penutup mata audiens adalah masker: alih-alih merintangi kerja penciuman, masker dialihfungsikan untuk meniadakan kerja penglihatan—ide komikal yang “Abi Rama banget”. Kedua, mengolok-olok moralitas visual audiens selama rentang waktu ketika daya persepsi visual mereka justru sedang “dilumpuhkan”. Selama karya ini berlangsung, penonton yang matanya tertutup (dan jujur untuk tidak mengintip) tidak mengetahui bahwa Abi tampil telanjang. Tentunya mereka baru akan mengetahui jika melihat video dokumentasi yang saya sebut tadi.

Pertanyaannya: dalam konteks masyarakat di mana “ketelanjangan adalah tabu”, apa gunanya “menghadirkan” tabu sebagai bagian dari artistik jika ketabuan itu sendiri tidak dapat dipersepsi, entah sebagai provokasi, kritisisme, ataupun pencerahan moral?

Pada poin pertanyaan inilah kita dapat kembali kepada ide “negosiasi kepercayaan” yang saya singgung di awal. Dalam The Trust Among Us, Abi meletakkan kepercayaan dalam sebuah hubungan ketergantungan, antara dirinya dan audiens. Sementara penonton tengah menginvestasikan kepercayaan mereka kepada seniman demi mengalami peristiwa artistik—dan dalam proses penginvestasian itu sebenarnya mereka secara tidak langsung sedang menguji bentuk kepercayaan yang tengah dibangun bersama—Abi juga ikut menginvestasikan kepercayaannya dengan menakar dan menaksir risiko moral di dalam hubungan tersebut. Signifikansinya bukan terletak pada apakah ketelanjangan dirinya itu terlihat atau tidak, melainkan pada niatan menguji yang direalisasikan sebagai aksi konkret oleh si seniman. Dan dalam rangka pengujian itu, ia memilih sesuatu yang ekstrem dari sudut pandang moral umum: tampil bugil.

Suasana di dalam ruangakan ketika karya seni performans berjudul The Trust Among Us (2016) dilakukan. Penonton menyimak karya dengan mata tertutup. Abi Rama (tidak tampak di dalam frame) berada di depan mereka melakukan aksi yang tidak diketahui oleh audiens waktu itu. (Foto: Forum Lenteng).

Di sini, perangkat takaran ada pada masker—sifatnya pasti dan dapat diukur: melihat/terlihat atau tidak melihat/tidak terlihat. Bersamaan dengan itu, perangkat taksiran ada pada perihal-perihal material yang mengangankan stimulasi indrawi lainnya: bunyi, dan—sesuatu yang mau tak mau harus saya bongkar di esai ini—bau.

Tentang bau yang saya singgung di atas, Abi suatu ketika bercerita kepada saya (jauh setelah karya itu dipresentasikan) bahwa, selama mata penonton ditutup dengan masker, ia merebus air untuk menyeduh semangkuk mie instan. Di sini, perlu pula saya sebut brand-nya: Indomie. Pemilihan objek ini sebagai elemen dalam peristiwa artistik, tentunya, sangat beralasan. Aroma Indomie, dalam latar lokal sosio-historis masyarakat Indonesia, adalah sebuah “rekaman” dari kenyataan sehari-hari. Siapa orang Indonesia yang tidak kenal dengan harumnya Indomie yang begitu menggiurkan dan menggugah selera itu? Sebagai bagian dari peristiwa artistik dalam The Trust Among Us, aroma makanan besertaan dengan bunyi yang berasal dari suatu kerja mekanis perkakas, ditransmisi menjadi kenyataan sensorial. Abi mencerabut makna umum dari dua anasir domestik, lantas memainkannya ke dalam dunia terkaan.

Ini adalah tentang “realitas” yang di dalamnya kognisi dibabat oleh sensasi. Sebagai suatu materialitas, bunyi dan bau dapat dialami keberadaannya pada situasi di mana aspek kognitif kita justru “gagal” mendefinisikan bunyi dan bau tersebut. Indra pendengaran dan penciuman berada pada kemampuannya untuk menerka dan mengira-ngira realitas macam apa yang tengah dialami oleh tubuh subjek; apa yang berlangsung, pada akhirnya, adalah spekulasi sensorik. Dalam konteks karya Abi, taksiran mengaburkan imajinasi yang dimungkinkan oleh takaran. Lewat bunyi dan bau, Abi melipatgandakan resistensi visual, dan karenanya, menurut saya, semakin menguatkan aspek humor dari karya seni performans ini.

Karya ini juga, akhirnya, memberikan suatu refleksi tentang transformasi risiko menjadi komedi. Lantas, di manakah letak ketegangan yang menjadikan karya ini begitu menarik? Mari kita kembali kepada kesepakatan sehari-hari: sesuatu yang meneror, kadang kala, terasa begitu sangat kuat dan intens menghantui kita justru pada saat kita tak mampu melihat keberadaannya. Akan tetapi, situasi di dalam ketidakberdayaan melihat sumber teror itu, tak jarang pula, merupakan tema yang kerap dipelintir menjadi komedi. Dalam sudut pandang kesenian (terutama dalam praktik-praktik avant-gardist), pengungkapan aspek komedi dari horor, tidak lain dan tidak bukan, bertujuan pada kritisisme. Pada proses membangun kritisisme berdasarkan refleksivitas tentang mekanisme sensasi jasmaniah itulah tegangan karya ini sebenarnya bekerja. Lagipula, kita amini saja intensi karya ini: peristiwa misterius. *

Notabene:
Saat tulisan ini rampung, dan kemudian ditinjau oleh Abi Rama, si seniman menyampaikan kepada saya bahwa ada satu aspek lagi yang terbilang sangat penting mengenai karya ini, yaitu “Distorsi Dokumentasi”. Abi Rama, sebenarnya, meniatkan dokumentasi dari karya ini dalam bentuk gambar (drawing) yang dilakukan oleh Otty Widasari (salah satu mentor di 69 Performance Club). Akan tetapi, dokumentasi berbentuk gambar tersebut tidak tercantum dalam arsip di situs web ini. Hal ini menjadi catatan penting untuk mendapatkan tinjauan lebih lanjut pada ulasan berikutnya, sehubungan dengan esensi “dokumentasi” sebagai perangkat signifikan bagi fakta historis sebuah karya seni performans, dan bagaimana keduanya (“dokumentasi” vs “karya”) memainkan peran penting dalam pewacanaan karya seni performans itu sendiri.

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search